Tetes Hujan

Lewat itu senyum, ia beranjak dari pandangan
Dan lekuk-lekuk angin membuatnya samar
Sambil perih berputar, mengeluhkan pamitan
Langkah kakinya luput di kejauhan

Bagi jejak terakhir yang tertinggal
Masih hangat, sehangat pertemuan
Adapun dibaliknya tarian pisau:
Tajam !

Sebagai penanda berai air mata
Kala hati dipaksa tegar dalam tawa
Telah kumaknai arti lambaian tangan,
Juga tawarnya sebuah kecupan

Yang...
Pada gemawan tidak tetap warna serta rupa
Tapi nyanyian hujan selalu sama kedengaran 
Layak diri: habis terkikis


Tetes-tetes hujan,
Dimana takkan cukup tinggi tegakku...

4 Komentar

8 Maret 2012 21.55

masih terasa ada perubahan dibanding puisi dulu, tapi tetap terasa dalam, apakah ada pengaruh dari pola pikir ya :)

6 Mei 2012 12.02

@Aulawi Ahmad
maaf baru dibls sob ...

iya sob, mencoba dalam eksplorasi kata2 tapi tanpa menghilangkan maknanya

31 Juli 2012 10.18

maknanya dalem seperti butiran air yg terpndam,,, b:

31 Juli 2012 10.21

@Jangkista e: trims kk, tar ane berkunjung balik

Posting Komentar

© 2008 - 2012 | aephobia
0, 0